Selasa, 15 Mei 2012

PEDOMAN PENULISAN TA (TUGAS AKHIR)

PEDOMAN PENULISAN TA(TUGAS AKHIR)

1. PENDAHULUAN
        penulisan karya ilmiah merupakan ciri pokok dari suatu kegiatan yang bersifat akademis .melalui penulisan karya ilmiah diharapkan akan lebih mempertajam pola pikir yang dikembangkan oleh peserta didik .pola pikir yang dikembangkan mencakup proses mengkominikasikan ide , gagasan serta kajian-kajian yang ditemukan selama menjalani proses dilapangan maupun melalui pemikiran-pemikiran secara mendalam . pedoman penulisan TA ini mencakup petunjuk untuk penulisan laporan kerja perusahaan (LKP) ,laporan studi literatur (LSL) ,LAPORAN PENGEMBANGAN PROYEK(LPP) ,DAN BENTUK PAPER..  

fungsi tombol pada oscilloscope




PANEL PADA OCILOSCOPE
LAMPU POWER                                : BERFUNGSI UNTUK MENGETAHUI AKTIF/TIDAKNYA SEBUAH OCILOSCOPE.
POWER ON                         : BERFUNGSI UNTUK MENGAKTIFKAN OCILOSCOPE.
POWER OFF                       : BERFUNGSI UNTUK MENONAKTIFKAN SEBUAH OCILOSCOPE.
INTEN                                   : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR TERANG/GELAPNYA GARIS FREKUENSI.
FOCUS                                  : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR KETAJAMAN GARIS FREKUENSI.
TRACE ROTATION            : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR POSISI MIRING GARIS FEKUENSI.
CAL 2V P-P                          : BERFUNGSI UNTUK MENGKALIBRASI ALAT OCILOSCOPE.

VERTICAL
POSITION PULL CHOP    : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR NAIK TURUNYA GARIS FREKUENSI.
VERT MODE                        : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR CHANEL YANGG AKAN DI PAKAI.
VOLTS / DIV                        : BERFUNGSI UNTUK MENENTUKAN SKALA VERTICAL TEGANGAN .
AC-GND-DC                        : - AC BERFUNGSI UNTUK MENGUKUR GELOMBANG TEGANGAN BOLAK BALIK.
                                                : - DC BERFUNGSI UNTUK MENGUKUR GELOMBANG TEGANGAN SEARAH.
                                                : - GND BERFUNGSI UNTUK MENONAKTIFKAN GELOMBANG.
CH 1                                       : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN INPUT CHANEL 1.
CH 2                                       : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN INPUT CHANEL 2.

HORIZONTAL
POSITION                            : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR LETAK GARIS FREKUENSI.
PULL.SWP.VAR                 : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR KERAPATAN GELOMBANG.
PULL X 10MAG                  : BERFUNGSI UNTUK MEMPER BESAR GELOMBANG 10 X LIPAT.
TIME / DIV                          : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR SKALA FREKUENSI DALAM SATU KOTAK.
TRIGER LEVEL                     : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR AGAR FREKUENSI TEPAT TERBACA.


PANEL PADA OCILOSCOPE
LAMPU POWER                                : BERFUNGSI UNTUK MENGETAHUI AKTIF/TIDAKNYA SEBUAH OCILOSCOPE.
POWER ON                         : BERFUNGSI UNTUK MENGAKTIFKAN OCILOSCOPE.
POWER OFF                       : BERFUNGSI UNTUK MENONAKTIFKAN SEBUAH OCILOSCOPE.
INTENSITY                           : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR TERANG/GELAPNYA GARIS FREKUENSI.
FOCUS                                  : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR KETAJAMAN GARIS FREKUENSI.
TRACE ROTATION            : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR KEMIRINGAN GARIS FEKUENSI.
CAL                                        : BERFUNGSI UNTUK MENGKALIBRASI ALAT OCILOSCOPE.
VERTICAL BLOCK
POSITION                            : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR NAIK TURUNYA GARIS FREKUENSI.
V.MODE                               : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR CHANEL YANGG AKAN DI PAKAI.
INPUT CH 1                         : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN INPUT CHANEL 1.
INPUT CH 2                         : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN INPUT CHANEL 2.
ALT                                         : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN BERGANTIAN CH 1 DAN CH 2.
CHOP                                    : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN POTONGAN CH 1 DAN CH 2.
ADD                                       : BERFUNGSI UNTUK MENGUNAKAN PENJUMLAHAN CH 1 DAN CH 2.
COUPLING                          : BERFUNGSI UNTUK MEMILIH SESUAI DENGAN CHANEL YANG DI GUNAKAN.
SOURCE                               : BERFUNGSI UNTUK SEBAGAI SUMBER PENGUKURAN BISA DARI CH1 ATAU CH2
SLOPE                                   : BERFUNGSI UNTUK SEBAGAI POSISI NORMAL GUNAKAN YANG + UNTUK   KEBALIKAN GUNAKAN YANG –.
AC-GND-DC                        : - AC BERFUNGSI UNTUK MENGUKUR GELOMBANG TEGANGAN BOLAK BALIK.
                                                : - DC BERFUNGSI UNTUK MENGUKUR GELOMBANG TEGANGAN SEARAH.
                                                : - GND BERFUNGSI UNTUK MENONAKTIFKAN GELOMBANG.
VOLT / DIV                          : BERFUNGSI UNTUK MENENTUKAN SKALA VERTICAL TEGANGAN.


HORIZONTAL BLOCK
POSITION                            : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR LETAK GARIS FREKUENSI.
PULL.SWP.VAR                 : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR KERAPATAN GELOMBANG.
PULL X 10MAG                  : BERFUNGSI UNTUK MEMPER BESAR GELOMBANG 10 X LIPAT.
TIME / DIV                          : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR SKALA FREKUENSI DALAM SATU KOTAK.
TRIGER LEVEL                     : BERFUNGSI UNTUK MENGATUR AGAR FREKUENSI TEPAT TERBACA.
KABEL BNC/PROBE          : BERFUNGSI UNTUK MEMASUKAN Y DAN PEMANDU BAGIAN UJUNG DENGAN SUSUNAN TEKAN PUTAR.





Oscilloscope adalah alat ukur elektronik, digunakan untuk melihat bentuk gelombang dari tegangan, harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun bukan sinus.
Dengan Oscilloscope dapat dilihat bentuk gelombang sinyal audio dan video, bentuk gelombang Tegangan Listrik Arus Bolak Balik yang berasal dari generator pembangkit tenaga listrik, maupun Tegangan Listrik Arus Searah yang berasal dari catu daya/baterai.


Fungsi tombol kontrol pada panel CRO
(1) P OSITION control. Putaran tombol akan mengatur posisi vertical dari berkas.
(2) INPUT Jack : vertical input jack
(3) AC GND DC Switch Pada posisi AC komponen DC dari signal ditahan oleh kapasitor. Pada posisi GND (ground),terminal input terbuka dan input amplifier internal disambung ke ground. Pada posisi DC terminal input disambung langsung ke amplifier dan semua komponen signal input dikuatkan.
(4) VOLT / DIV Switch. Skala bertingkat dalam Volt per div dari layar CRT. Dapat dipilih dalam 11 range dari 0,01 V / div sampai 20 V / div.
(5) VARIABLE control. Pengaturan attenuasi vertical. Pengatur halus (fine) dari sensitifitas vertical. Pada putaran kearah kanan maksimum (sampai berbunyi “klik” ) attenuasi vertical pada posisi terkalibrasikan (CAL).
(6) LED Pilot lamp. Lampu ini akan menyala kalau power switch ON.
(7) POWER ON/ INTENSITY control. Mengatur kecerahan berkas gambar Digunakan untuk menghidupkan dan mematikan daya listrik ke CRO dengan memutar tombol ke arah kiri maksimum.
(8) FOCUS Control. Pengontrolan fokus berkas untuk memperoleh bentuk gelombang yang optimum kecerahannya.
(9) SOURCE switch. Dua posisi switch untuk memilih sumber trigger untuk sweep (INT atau EXT).
(10) EXT TRIG Jack. External sync jack. Untuk sikronisasi eksternal diperlukan tegangan lebih dari 1 Vp-p, dengan SOURCE switch pada posisi EXT.
(11) SYNC Switch. Saklar pemisah sinkronisasi. Akan mengambil komponen signal sync dalam signal video, dan diaplikasikan pada rangkaian sync untuk menyempurnakan sinkronisasi signal video yang
ditampilkan. NORM ± : Untuk menampilkan bentuk gelombang pada umumnya. Pada posisi ini rangkaian TV sync separator tidak tersambung. Pada polaritas “+”, sweep dipengaruhi oleh slope “+”, sedangkan pada polaritas “-“, sweep dipengaruhi oleh slope “-“. TV ± : Dipakai untuk menampakkan bentuk-bentuk
gelombang signal video TV yang disinkronkan dengan signal sync.
(12) LEVEL Control. Triggering level / PULL AUTO akan mengatur phase sync untuk menentukan titik awal
sweep pada slope dari signal trigger.




(13) POSITION control. Putaran pengatur posisi horizontal dari berkas gambar. PULL 5X MAG Switch,
Push-pull switch memilih pembesaran 5X bila ditarik keluar (PULLED-OUT) dan normal bila ditekan kembali (PUSHED-IN).
(14) SWEEP TIME / DIV Switch. Selector time sweep horizontal. Saklar pemilih sweep timw dari 1 s sampai
0,5 s dalam 18 langkah. Operasi EXT H dimungkinkan dengan memutar knob ke arah kanan penuh. Bila saklar variable diputar arah kanan penuh, pembacaan harga time sweep sudah terkalibrasi.
(15) VARIABLE control. Pengaturan attenuasi vertical. Pengatur halus (fine) dari sensitifitas vertical. Pada
putaran kearah kanan maksimum (sampai berbunyi “klik” ) attenuasi vertical pada posisi terkalibrasikan
(CAL).
(16) HOR INPUT Jack. Bila dipakai input horizontal dari luar.
(17) CAL 1 Vp-p Jack. Jack untuk tegangan kalibrasi. Kalibrasi tegangan adalah 1 Vp-p dari gelombang kotak dengan sumber daya tersinkronisasi. Terminal CAL 1Vpp juga dipakai untuk memeriksa kondisi vertical gain
atau untuk mengatur karakteristik gelombang kotak dari probe.
(18) TRACE Rotation. Dipakai untuk menghilangkan kemiringan berkas garis lurus horizontal.
(19) Z – AXIS INPUT Jack.. Jack intensitas modulasi intensitas dimodulasi pada tegangan5 Vp-p atau lebih
rendah.
(20) Power connector. Untuk menghubungkan AC power cord.
(21) AC Voltage Selector. CRO ini dapat bekerja pada tegangan 100V, 120V, 220V dan 240V.Pemilihan posisi
tegangan tersebut dengan AC Voltage Selector.
(22) Fuse holder. Untuk tegangan operasi 100 ~ 120 V dipakai 0,7 ampere. Untuk tegangan operasi 220 ~
240V dipakai fuse 0,3 ampere.
(23) Cord reel. Dipakai untuk melingkarkan power cord cable pada saat CRO disimpan. Juga berfungsi sebagai
penyangga kalau CRO dipakai pada posisi berdiri tegak.

Oscilloscope dilengkapi dengan kabel penyidik (probe) seperti yang terlihat pada gambar

settingIl02
GAMBAR  KABEL PENYIDIK (PROBE) DAN KELENGKAPANNYA




MACAM-MACAM GELOMBANG DAN APLIKASINYA

Gelombang Sinus

Gelombang sinus adalah gelombang yang berbentuk fungsi sinus seperti yang digunakan dalam trigonometri. Dalam elektronika, gelombang sinus memegang peranan yang sangat besar dalam menguji dan menganalisa rangkaian.
Pada gambar berikut ditunjukkan gelombang sinus secara detil:

Gambar bentuk gelombang sinus

Istilah istilah berikut sering digunakan untuk menjelaskan gelombang :

1. Perioda (T) : Waktu yang dibutuhan satu siklus pengulangan secara lengkap. Perioda dapat diukur dengan cara mengukur waktu interval antara dua puncak gelombang yang berdekatan.

2. Frekuensi ( f ) : Jumlah siklus (gelombang) dalam satu detik, satuannya dinyatakan dalam hertz, Hz. 1 Hz = 1 siklus per detik. Bila diketahui perioda, maka dapat dihitung frekuensinya dengan  persamaan:

3. Amplitudo  : Amplitudo adalah tingginya puncak gelombang sinus. Amplitudo ini dapat dinyatakan dengan   beberapa cara. Amplitudo puncak, Vp , diukur dari sumbu X ,0 volt, ke puncak tertinggi  (terendah) dari gelombang. Amplitudo puncak ke puncak, Vpp ,diukur dari puncak tertinggi  ke puncak terendah. Dalam praktek, mengukur Vpp lebih mudah daripada mengukur Vp. Besarnya Vpp tepat 2 kali Vp. Walaupun Vpp pada osiloskop lebih mudah diukur, tetapi mengukur amplitudo rms lebih disukai karena teganagn rms menggambarkan tegangan efektif,yang biasa dicantumkan dalam infromasi arus bolak-balik. Amplitudo rms dapat ditulis:
                          
                                                       Vrms = VP / √2  ,  Vrms = 0,7

  dan   Vp = 1,4 x Vrms

4. Fasa   : Kadang-kadang gelombang sinus dbagi-bagi dalam sudut fasanya (dalam derajat) seperti berikut
Bila dua buah gelombang sinus mempunyai frekuensi yang sama dan terjadi pada saat yang sama, maka kedua gelombang tersebut dikatakan sefasa (in phase):

Gelombang Kotak (Square)
Gelombang kotak merupakan bentuk umum gelombang yang lain. Pada dasarnya gelombang kotak adalah tegangan yang dihidupkan dan dimatikan (kondisi high dan low) pada interval yang teratur. Rangkaian elektronik digital, seperti pada komputer, TV, radio, dll, seringkali menggunakan gelombang kotak sebagai sinyal pewaktuan (timing signals).
Seperti gelombang sinus, gelombang kotak juga diuraikan dalam perioda, frekuensi dan amplitudo:

Gambar gelombang kotak

Amplitudo puncak, Vp , amplitido puncak ke puncak, Vpp , diukur seperti pada gelombang sinus. Tetapi, amplitudo rms gelombang kotak adalah lebih besar dari amplitudo rms gelombang sinus.Walaupun gelombang kotak dapat berubah dengan cepat dari posisi minimum ke posisi maksimum, perubahan ini tetap memerlukan waktu. Didefinisikan rise time (waktu naik) suatu sinyal adalah waktu yang dibutuhkan nilai tegangan berubah dari 10% ke 90% nilai maksimumnya. Rise time ini biasanya sangat pendek, dalam orde nanoseconds (1 ns = 10-9 s), atau microseconds (1 µs = 10-6 s), seperti terlihat pada gambar di atas.

Gelombang persegi (rectangular) menyerupai gelombang kotak, hanya interval waktu kondisi high dan low tidak memiliki panjang yang sama. Kedua gelombang tersebut cukup penting untuk menganalisa rangkain elektronik

Sebaliknya, bila kedua gelombang tersebut terjadi pada waktu yang berbeda, maka dikatakan kedua gelombang tersebut tidak sefasa (out of phase). Bila ini terjadi, perbedaan fasa tersebut dinyatakan dalam sudut fasa, . Pada gambar B di atas, beda sudut fasa kedua gelombang tersebut = 90°. Bentuk sinusoidal yang teredam (damped sine) merupakan kasus khusus yang dapat anda dapatkan pada sirkuit yang berosilasi namun semakin mengecil bersama waktu.

Gelombang     Pulsa

Gelombang pulsa mirip dengan gelombang kotak kecuali bahwa gelombang pulsa semuanya terletak di atas sumbu X. Pada awalnya, tegangan berubah mendadak dari level Low, dekat sumbu X, ke level High, biasanya dekat dengan tegangan catu daya.

Adapun istilah 'frekuensi' pulsa didefinisikan sebagai laju pengulangan (repetition rate), yaitu jumlah siklus per detik (hertz, Hz). Waktu keadaan High dari pulsa gelombang disebut mark, dan waktu Low disebut space. Perbandingan kedua besaran tersebut disebut mark space ratio: 

mark space ratio = High time / Low time


Mark space ratio = 1.0 berarti waktu Low = waktu High.

Cara lain yang popular untuk menyatakan perbandingan waktu High dengan perioda gelombang adalah yang disebut duty cycle, yaitu:

duty cycle = ( High time/ Periode) * 100%



Bila duty cycle kurang dari 50%, maka waktu High nya lebih rendah waktu Low.

Gelombang Segitiga dan Gigi Gergaji
Tegangan Ramp adalah tegangan yang naik atau turun seperti ditunjukkan pada gambar berikut 



Ramp rate dinyatakan dalam volt per detik, V/s.
Gelombang segitiga terdiri dari gelombang ramp yang berubah-ubah dari positif ke negatif secara bergantian. Pada gelombang segitiga, laju perubahan tegangan dari ramp positif dan ramp negatif dalam tiap siklus sama besar, sedangkan pada gelombang gigi gergaji tidak sama besar. 




Rabu, 02 Mei 2012

Jenis Resistor


Jenis Resistor
Sebenarnya, semua rangkaian listrik dan elektronik adalah suatu pengatur tegangan dan/atau arus. Cara terbaik untuk mengontrolnya adalah dengan cara memasukkan nilai resistansi yang tepat kedalam rangkaian tersebut. Walaupun terdapat bermacam-macam jenis dan ukuran resistor dipakai dalam peralatan listrik dan elektronik, resistor-resistor tersebut digolongkan menjadi dua kategori utama yaitu : resistor tetap (fixed) dan resistor variabel (variable).
Resistor Tetap (Fixed Resistor)
Seperti namanya, resistor tetap adalah resistor yang mempunyai nilai resistansi (hambatan)  yang tetap/konstan. Ada banyak jenis resistor tetap, mulai dari seukuran mikroskopis (digunakan pada IC) hingga ukuran besar yang mampu menyerap daya watt yang besar. Gambar 3-7 menunjukkan struktur dasar dari resistor komposisi karbon.
 

Seperti ditunjukkan gambar 3-7, resistor komposisi karbon terdiri dari inti karbon yang dicampur dengan bahan insulator (bahan yang susah menghantar listrik) sebagai pengisinya. Rasio dari bahan karbon dengan pengisinya menentukan nilai resistansi dari resistor tersebut : semakin banyak bahan karbonnya, semakin kecil nilai resistansinya. Batang logam dimasukkan kedalam inti karbon, kemudian seluruh bagian resistor tersebut dikapsulisasi dengan lapisan isolator. Resistor komposisi karbon tersedia dalam berbagai nilai resistansi mulai dari 1Ω hingga 100MΩ dan biasanya mempunyai rating daya dari 1/8 W hingga 2 W. Gambar 3-8 menunjukkan berbagai macam ukuran resistor. Semakin besar ukuran resistor, maka semakin mampu untuk menyerap daya yang lebih besar dibanding resistor ukuran yang lebih kecil.
http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/gambar-3-8.jpg?w=300&h=229

Walaupun resistor komposisi karbon mempunyai keuntungan berupa harga yang murah dan mudah diproduksi, resistor ini cenderung mempunyai toleransi yang lebar dan nilai resistansinya mudah berubah karena pengaruh suhu. Seperti ditunjukkan gambar 3-9, resistansi dari resistor komposisi karbon bisa memiliki toleransi sebesar 5% ketika suhunya berubah 100oC.
Jenis resistor yang lain adalah film karbon, film logam, logam oksida, sayatan-kawat, dan dalam bentuk paket IC.
Bila resistor tetap digunakan dalam aplikasi dimana ketelitian (presisi) adalah faktor yang penting, maka resistor film lah yang dipakai. Resistor jenis ini ada yang terbuat dari karbon, logam, atau film metal oksida yang diendapkan pada keramik silindris. Resistansi yang diinginkan didapatkan dengan cara membuang bagian bahan yang mempunyai sifat resistif/menghambat, menghasilkan bentuk heliks disekitar inti keramik. Bila perubahan resistansi akibat suhu bukan hal yang penting, maka bahan karbon yang murah digunakan. Tetapi, bila toleransi tertentu yang diinginkan pada selang suhu yang lebar, maka resistor dibuat dari film yang berisi campuran logam seperti nikel kromium, konstantum, atau manganin, yang mempunyai koefisien suhu yang kecil.
Terkadang sebuah rangkaian membutuhkan resistor yang mampu menyerap panas dalam jumlah yang besar. Pada kasus seperti ini, resistor sayatan kawat (wire- wound) bisa digunakan. Resistor ini dibentuk dari sayatan campuran logam disekitar lubang inti porselen yang dapat menyerap panas dengan cepat akibat arus yang mengalir melalui kawat. Gambar 3-10 menunjukkan berbagai macam resistor daya.
pada rangkaian dimana penyerapan panas bukanlah hal yangg penting, resistansi yang tetap dibuat didalam paket kecil (yang disebut IC) yang bisa berisi banyak resistor. Keuntungannya adalah lebih menghemat tempat pada papan rangkaian. Gamabr 3-11 menunjujjan resistor yang dikemas dalam IC.



Resistor variabel (Variable resistor)
Resistor variabel banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kompnen ini digunakan untuk menyetel volume radio, mengatur tingkat kecerahan lampu, dan menyetel panas dari kompor dan tungku perapian. Gambar 3-12 menunjukkan gambar dalam dan luar dari resistor variabel.
http://airlangga25.files.wordpress.com/2011/08/gambar-3-12.jpg?w=614&h=291
Pada gambar 3-13, kita melihat  bahwa variabel resistor memiliki tiga terminal, dua dari ketiganya terbuat dari bahan resistif. Terminal bagian tengah dihubungkan ke penyeka yang dapat bergerak diantara bahan resistif ketika batang diputar menggunakan tombol atau obeng. Resistansi diantara dua terminal terluar bernilai konstan tetapi resistansi antara terminal tengah dengan terminal lainnya akan berubah tergantung dengan posisi dari penyekanya.
Skematik dari resistor variabel ditunjukkan pada gambar 3-13 (b), kita lihat hubungan matematisnya:
Rac = Rab + Rbc
Resistor variabel digunakan untuk dua fungsi. Potensiometer, ditunjukkan gambar 3-13 (c), digunakan untuk menyetel nilai tegangan (potensial) pada suatu rangkaian. Rheostat, hubungan dan skematiknya ditunjukkan pada gambar 3-14, digunakan untuk menyetel nilai arus pada rangkaian. Penggunaan potensiometer dan rheostat dijelaskna pada pembahasan selanjutnya.

Kode Warna pada Resistor
Banyak resistor jenis sayatan – kawat (wire – wound) dan jenis penutup keramik (ceramic encased) mempunyai nilai dan toleransi yang langsung dicetak pada casisnya. Tetapi, untuk resistor jenis komposisi karbon dan resistor film, ukurannya terlalu kecil, sehingga tidak mungkin nilai resistansi dan toleransinya dicetak di casisnya. Tetapi resistor jenis ini, biasanya mempunyai cetakan berupa gelang-gelang atau pita warna secara melingkar pada badan resistornya seperti tampak pada gambar 3-15.
Pita warna ini adalah kode yang digunakan untuk menentukan nilai resistansi, toleransi (dalam persen), dan daya tahan dari resistor tersebut. Pita warna selalu dibaca dari kiri ke kanan, sebelah kiri adalah bagian ujung pinggir resistor yang paling dekat dengan pita warna (debanding sebelah kanan).
Dua pita pertama menunjukkan digit pertama dan kedua dari nilai resistansi. Pita ketiga disebut dengan faktor pengali dan merupakan angka nol dibelakang angka kedua (kelipatan sepuluh). Pita keempat menunjukkan toleransi pada resistor, dan pita kelima (bila ada) menunjukkan daya tahan (keawetan) dari komponen tersebut. Daya tahan adalah indikasi statistik dari sekumpulan komponen dimana nilai resistansinya kemungkinan dapat berubah setelah pemakaian 1000 jam. Sebagai contoh, bila suatu resistor mempunyai daya tahan 1% untuk pemakaian setelah 1000 jam,  maka tidak lebih satu dari seratus resistor yang telah dibuat kemungkinan nilai resitansinya akan berubah dari nilai resistansi yang ditunjukkan oleh pita warnanya. Tabel 3-5 menunjukkan bermacam pita warna yang dicocokkan dengan nilai-nilainya.


Senin, 30 April 2012

TEKNIK REPARASI DAN PERAWATAN SEPEDA MOTOR

TEKNIK REPARASI DAN PERAWATAN SEPEDA MOTOR

1. PRINSIP KERJA MESIN SEPEDA MOTOR
               Sistem kerja yang baik pada sebuah mesin kendaraan sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Demikian pula pada mesin kendaraan sepeda motor. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan agar mesin kendaraan sepeda motor dapat bekerja dengan baik.
  • Mengisap bahan bakar (campuran bensin dengan udara) masuk kedalam ruang bakar.
  • Menaikkan tekanan gas campuran bensin dan udara agar diperoleh tekanan hasil pembakaran yang cukup tinggi.
  • Meneruskan gaya tekan hasil pembakaran sehingga dapat digunakan sebagai tenaga penggerak.
  • Membuang gas hasil pembakaran keluar dari ruang pembakaran

Prinsip kerja pada mesin :
a.      Prinsip kerja mesin 4 langkah/ tak
      -Langkah isap
·         Torak dari TMA ke TMB.
·         Katup masuk terbuka, katup bunag tertutup.
·         Campuran bahan bakar dengan udara yang telah tercampur di dalam karburator, masuk dan diisap ke dalam silinder.
·         Saat torak berada di TMB katup masuk akan tertutup.

      -Langkah kompresi/ penekanan
·         Torak bergerak dari TMB ke TMA.
·         Katup masuk dan katup buang kedua-duanya tertutup sehingga gas yang telah diisap tadi tidak dapat keluar pada waktu ditekan oleh torak yang mengakibatkan tekanan gas akan naik sambil mengeluarkan panas.
·         Beberapa saat sebelum torak mencapai TMA busi mengeluarkan percikan bunga api listrik.
·         Gas/ bahan bakar yang telah mencapai tekanan tinggi tadi terbakar.
·         Akibat pembakaran bahan bakar tadi, tekanannya akan naik menjadi kira-kira tiga kali lipat.

      -Langkah kerja/ ekspansi
·         Saat ini kedua katup masih dalam keadaan tertutup.
·         Gas yang terbakar tadi dengan temperatur dan tekanan yang tinggi akan mengembang kemudian menekan dan memaksa torak turun ke bawah dari TMA ke TMB.
·         Saat inilah pertama kali tenaga poros (kalori) diubah menjadi tenaga bergerak / mekanis. Tenaga ini disalurkan melalui batang penggerak, selanjutnya oleh poros engkol diubah menjadi gerak berputar.

      -Langkah pembuangan
·         Katup buang terbuka, katup masuk tertutup.
·         Torak bergerak dari TMB ke TMA.
·         Gas-gas sisa pembakaran terdorong oleh torak keluar melalui katup buang menuju udara bebas.

b.      Prinsip kerja mesin 2 langkah
      -Langkah Pengisapan
·         Torak bergerak dari TMA ke TMB.
·         Pada saat saluran bilas masih tertutup oleh torak, di dalam bak mesin terjadi kompresi terhadap campuran busi dengan udara.
·         Di atas torak, gas sisa pembakaran dari hasil pembakaran sebelumnya sudah mulai terbuang ke luar melalui saluran buang.
·         Saat saluran bilas sudah terbuka, campuran bensin dengan udara mengalir melalui saluran bilas terus masuk ke dalam ruang bakar.

      -Langkah kompresi
·         Torak bergerak dari TMB ke TMA.
·         Rongga bilas dan rongga buang tertutup, terjadi angkah kompresi dan setelah mencapai tekanan tinggi busi meletikkan bunga api listrik untuk membakar campuran bensin dengan udara tadi.
·         Pada saat yang bersamaan, di bawah (di dalam bak mesin) bahan bakar yang baru masuk ke dalam bak mesin melalui saluran masuk.

      -Langkah kerja/ ekspansi
·         Torak kembali dari TMA ke TMB akibat tekanan besar yang terjadi pada waktu pembakaran bahan bakar.
·         Saat itu torak turun sambil mengkompresi bahan bakar baru di dalam bak mesin.

      -Langkah buang
·         Menjelang torak mencapai TMB, saluran buang terbuka dan gas sisa pembakaran mengalir terbuang ke luar.
·         Pada saat yang sama bahan bakar baru masuk ke dalam ruang bakar melalui rongga bilas.
·         Setelah mencapai TMB kembali torak menuju TMB unuk mengadakan langkah sebagai pengulangan dari yang dijelaskan di atas.

2. BAGIAN PENTING MESIN SEPEDA MOTOR
a.    Silinder
        Silinder adalah sebagai tempat pembakaran campuran bahan bakar dengan udara untuk  
        mendapatkan tekanan dan temperatur yang tinggi. Akibat adanya tekanan tinggi dan gesek-
        gesekan torak dinding silindernya maka pembuatan silinder itu harus dikerjakan dengan cara
        halus, teliti, dan baik. Bahan logam yang dipergunakan haruslah bahan yang berkualitas tinggi
sehingga tahan lama, tahan gesekan, serta tahan terhadap temperatur dan tekanan tinggi.
        Pada umumnya silinder dibuat dari bahan baja tuang untuk mesin besar dan untuk mesin
        kecil terbuat dari bahan logam aluminium paduan yang di bagian dalamnya dipasangkan tabung
        dari bahan baja yaitu pada bagian tempat bergeraknya torak.
Sepeda motor yang menggunakan system pendinginan udara, pada bagian luar silinder
        terdapat sirip-sirip utuk mempertinggi efisiensi pendinginan. Pada mesin 4 langkah dinding
        silindernya berbentuk rata dan polos sedangkan pada mesin 2 langkah terdapat saluran-saluran
        bilas dan rongga pembuangan.
b.      Kepala silinder
Umumnya kepala silinder dibuat dari bahan aluminium paduan. Untuk menghindarkan terjadinya kebocoran gas terutama pada langkah kompresi maka pemasangan paking dan pengencangan baut untuk merapatkan kepala silinder terhadap silindernya haruslah seteliti mungkin.
c.       Bak mesin
Bak mesin merupakan tempat silinder, poros engkol, dan gigi transmisi. Bak mesin umumnya dibuat dari bahan logam aluminium paduan. Pada jenis motor 2 langkah, pada bagian bak mesinnya terdapat saluran yang dihubungkan dengan karburator sebagai pemasukan bahan bakar. Pada motor 4 langkah bak mesin juga merupakan tempat (bak) minyak pelumas sekaligus juga sebagai pendingin minyak pelumas di dalam sirkulasinya.
d.      Torak
Torak atau piston terbuat dari bahan aluminium paduan yang mempunyai sifat:
Ø  Ringan,
Ø  Penghantar panas yag baik,
Ø  Pemuaian kecil,
Ø  Tahan terhadap keausan akibat gesekan, dan
Ø  Kekuatan yang tinggi terutama pada temperatur tinggi.

Bentuk dari kepala torak umumnya rata. Akan tetapi, dengan adanya kebutuhan sehubungan dengan kompresi dan bentuk ruang bakarnya, maka torak pada motor dapat juga berbentuk cekung, cembung, kerucut terpancung, atau bentuk deflector (tonjolan pengaruh gas).
Diameter torak dibuat lebih kecil daripada diameter lubang silindernya. Pada waktu mesin bekerja, kerenggangan itu dirapatkan oleh cincin torak yang mempunyai sifat pegas. Untuk menghindari terjadinya kemacetan saat torak memuai diwaktu mesin sedang panas maka pelumasan di antara dinding silinder dengan torak dan cincin torak ini harus baik sekali. Kerenggangan antara diameter torak dengan diameter lubang silinder mempunyai besar tertentu pada setiap jenis motor. Kerenggangan yang terlalu besar atau terlalu kecila mempunyai pengaruh yang buruk.
Bentuk silinder diameter bagian atas umumnya lebih kecil daripada bagian bawah. Hal ini untuk menanggulangi pemuaian yang lebih banyak pada bagian atas karena pada bagian itu terjadi panas yang terbesar.
e.      Cincin torak